Selasa, 19 Mei 2009

MENJADI PRIBADI YANG LEBIH FLEKSIBEL
Kita hidup dengan pola hidup dan pola pikir dalam tiga bentuk dasar, konsisten, fleksibel dan presisten. Saat orang meyakini jalur hidupnya harus berdagang maka ia akan berdagang untuk kehidupannya begitu pula buruh, karyawan, birokrat, pengusaha dan lainnya. Manusia mengambil konsistensi pikirannya sebagai sesuatu yang ideal baginya. Hingga suatu saat konsistensi itu harus diredam agar lebih fleksibel, tanpa mengurangi kadar konsistensi karena ada konsistensi lain yang lebih besar, yang lebih esensial.
Rentang wktu menjadi penilaian konsistensi seseorang. Saat orang dalam rentang waktu yang pendek orang berubah –ubah pikirannya, orang akan mengatakan bunglon. Tak perlu punya konsistensi jika menyangkut pengambilan keputusan besar. Disebut moody atau angina anginan untuk hal-hal sepele. Biar keren diaku sebagai fleksibel, agar ada faktor narsisme sedikit.
Konsisten untuk diri sendiri bukanlah hal yang sulit, karena di situ salah satu ego manusia. juga menjadi jati diri dilihat orang lain, lebih besar lagi menjadi sebuah kehomatan diri, Konsistensi, menjadi rumit saat bersinggungan dengan orang lain. Terjadi benturan konsistensi, benturan ego. Saat konsistensi bertahan meski berbenturan dengan hal lain, tak peduli berakibat buruk, orang mengatakannya sebagai persistensi. Persistensi sering dianggap buruk karena berdasar pada konsep “tak kompromi”. Sangat kecil kemungkinan fleksibilitasnya. Tirani yang terjadi jika berada pada kekuasaan tunggal.
Dalam kehidupan sehari-hari kita lebih banyak berhadapan dengan konsistensi dan fleksibilitas. Persistensi hanya dianggap kegilaan, walau kadang kegilaan berdekatan dengan kejeniusan. Apa yang membuat manusia hidup diatas konsistensi sekaligus fleksibilitas adalah komitmen. Komitmen yang membuat orang konsisten atas sesuatu hal, diatas rasa, pikiran dan aksi, sekaligus menjadi jalan untuk orang bersikap fleksibel.
Namun ada kalanya komitmenpun bisa berubah. Termasuk komitmen antar manusia, antar keluarga, atara perempuan dan laki-laki dan sebagainya. Baik informal pertemanan dan persahabatan atau yang bersifat formal dalam kelembagaan, di dalam perusahaan organisasi, kemasyarakatan hingga lembaga pernikahan.
Hampir semua manusia mengikat diri dalam komitmen antar manusia sebagai bentuk kebutuhan yang mendasar. Komitmen merupakan kontemplasi rasa, pikiran, keinginan, kebutuhan, dan harapan. Sesuatu yang besar untuk modal hidup, mulus atau kasar jalan yang di tempuh bukan masalah. Wereng, tikus, ijon, tengkulak dan sebagainya bukanlah hambatan seorang petani menjadi petani karena ia merasa sudah berkomitmen menjadi seorang petani, atas dasar segala rasa, pikiran, kebutuhan dan keinginannya.
Apa jalan terbaik saat komitmen diguncang-guncang?
Orang lain yang mengguncang bukanlah masalah, berkomitmen adalah sebuah harga diri. Bagaimana jika yang mengguncang adalah satu dari dua orang yang berkomitmen bersama?
Kompromi .Meski kompromi adalah sebuah upaya konsisten dengan cara fleksibel diatas jalan setapak yang berbatu dan berontak.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar