Selasa, 19 Mei 2009

Cara afektif menghadapi keberatan

Cara afektif menghadapi keberatan
Roti lapis
Kita melihat keberatan sebagai suatu serangan pada diri kita dan kita menjadi defensif. Menyalahkan orang yang mengajukan keberatan kepada kita. Jadi apa yang harus kita lakukan jika orang lain memang salah? Jawabannya ada dalam suatu kebenaran yang sederhana; tidak ada orang yang bersikap defensif saat mereka dipuji. Mungkin mereka merasa malu, atau merendah, tetapi tidak pernah menyerang pujian yang tulus. Bilamana kita perlu memberikan masukan yang negative berikanlah dalam bentuk sebuah sandwich; masukan negative diberikan diantara dua ‘potong’ apresiasi. Kedua potong apresiasi harus tulus dan bermakna bagi orang tersebut.
Contoh ; “Terimakasih atas masukan Bapak untuk Yamaha tentang barang yang indent. Kami ingin informasikan bahwa mengapa terjadi indent dikarenakan Produksi masih belum memenuhi permintaan yang begitu banyak. Sekali lagi terimakasih, kami berusaha untuk memberikan pelayanan yang terbaik, karena bapak sudah setia bersama kami Yamaha”.
Kalimat “saya”
Kata “kamu” atau “anda” seringkali digunakan sebagai bagian dari suatu tuduhan. Ketika kita mendengar kata “kamu” atau “anda” yang berbau tuduhan itu, terutama jika datang dari orang yang sedang marah atau kesal, kita mulai membela diri. Di pihak lain, bilamana seorang berkata bahwa dia sedang kesal, maka kita dapat menerimanya dan tidak harus merasa tertuduh. Kalimat “saya” pada dasarnya mengubah suatu serangan , keberatan, atau kalimat negative yang tertuju pada orang lain dan menjadikannya menjadi suatu kalimat yang menggambarkan perasaan kita- dan bukan mengenai apa yang menjadi kesalahan mereka. Jadi kalimat seperti”kamu orang brengsek” menjadi “saya merasa dikecewakan , saya jadi ragu-ragu apakah saya dapat mempercayai hal seperti ini lagi. “ kalimat ini akan membuka pintu bagi diskusi, dan anda tidak akan diserang balik.
Metode rasa-rasa
Kita dapat menggunakan prinsip Aikido dalam bahasa; Anda terima apa yang mereka katakana, menangkis dan membalikkannya menjadi suatu pernyataan positif bagi anda. Teknik ini terdiri dari menggunakan empat kata”rasa” dalam suatu urutan sehingga sering dikenal dengan metode “rasa-rasa-rasa-rasa”. Prosesnya seperti ini.
Lawan bicara anda berkata,
“Bukan begitu! Saya tidak setuju dengan anda!”.
Anda menjawab dengan,
“Saya memahami apa yang anda rasakan. Saya telah menjelaskan hal yang sama pada pelanggan yang lain dan mereka merasakan hal yang sama dengan anda, tetapi setelah mereka mencobanya mereka merasakan bahwa hasilnya memang sangat baik. Saya yakin, setelah anda mencobanya, anda akan merasakan manfaat yang sama”.
Saying “No” or disagreeing diplomatically
Sekali lagi : Orang merasa kesal dan bersikap defensive ketika mereka dilarang atau diabaikan. Kita tidak suka mendengar kata “tidak” karena kita melihatnya sebagai penolakan atas diri kita. Berikut ini 3 cara untuk mengatakan “tidak”.
Cara Diplomatis
Dengarkan apa yang dikatakan dengan hati-hati dan penuh perhatian..
Simpulkan dengan kata-kata anda sendiri apa yang telah anda dengar.
Bicarakan dengan singkat apa yang anda sukai dari apa yang disampaikan, apa yang positif dari usulan permintaan mereka.
Ajukan pertanyaan yang menantang sesuatu yang anda tidak sepakati tersebut “menurut anad kenapa……?
Cara Positif
Tanggapi dengan mengatakan sesuatu yang positif, seperti :
“Ide yang bagus sekali!” atau “saya senang anda menanyakannya”.
Lalu bicarakan apa saja dampaknya bila anda mengatakan “ya”. Hal-hal itulah yang nanti menjadi alasan anda mengatakan “tidak”
Berdasarkan pertimbangan tadi, katakan “tidak”. Tawarkan alternative / sesuatu yang lain bagi mereka.
Dalam metode ini kita memberikan tanggapan positif dan hanya menolak permintaan mereka. Berikan alas an-alasan logis atas keputusan kita, dan pastikan kesediaan kita untuk membantu dengan cara menawarkan alternative.
Cara Sederhana
Sebenarnya saya ingin melakukannya, sayang sekali….”

Tidak ada komentar:

Posting Komentar