MENJADI PRIBADI YANG LEBIH FLEKSIBEL
Kita hidup dengan pola hidup dan pola pikir dalam tiga bentuk dasar, konsisten, fleksibel dan presisten. Saat orang meyakini jalur hidupnya harus berdagang maka ia akan berdagang untuk kehidupannya begitu pula buruh, karyawan, birokrat, pengusaha dan lainnya. Manusia mengambil konsistensi pikirannya sebagai sesuatu yang ideal baginya. Hingga suatu saat konsistensi itu harus diredam agar lebih fleksibel, tanpa mengurangi kadar konsistensi karena ada konsistensi lain yang lebih besar, yang lebih esensial.
Rentang wktu menjadi penilaian konsistensi seseorang. Saat orang dalam rentang waktu yang pendek orang berubah –ubah pikirannya, orang akan mengatakan bunglon. Tak perlu punya konsistensi jika menyangkut pengambilan keputusan besar. Disebut moody atau angina anginan untuk hal-hal sepele. Biar keren diaku sebagai fleksibel, agar ada faktor narsisme sedikit.
Konsisten untuk diri sendiri bukanlah hal yang sulit, karena di situ salah satu ego manusia. juga menjadi jati diri dilihat orang lain, lebih besar lagi menjadi sebuah kehomatan diri, Konsistensi, menjadi rumit saat bersinggungan dengan orang lain. Terjadi benturan konsistensi, benturan ego. Saat konsistensi bertahan meski berbenturan dengan hal lain, tak peduli berakibat buruk, orang mengatakannya sebagai persistensi. Persistensi sering dianggap buruk karena berdasar pada konsep “tak kompromi”. Sangat kecil kemungkinan fleksibilitasnya. Tirani yang terjadi jika berada pada kekuasaan tunggal.
Dalam kehidupan sehari-hari kita lebih banyak berhadapan dengan konsistensi dan fleksibilitas. Persistensi hanya dianggap kegilaan, walau kadang kegilaan berdekatan dengan kejeniusan. Apa yang membuat manusia hidup diatas konsistensi sekaligus fleksibilitas adalah komitmen. Komitmen yang membuat orang konsisten atas sesuatu hal, diatas rasa, pikiran dan aksi, sekaligus menjadi jalan untuk orang bersikap fleksibel.
Namun ada kalanya komitmenpun bisa berubah. Termasuk komitmen antar manusia, antar keluarga, atara perempuan dan laki-laki dan sebagainya. Baik informal pertemanan dan persahabatan atau yang bersifat formal dalam kelembagaan, di dalam perusahaan organisasi, kemasyarakatan hingga lembaga pernikahan.
Hampir semua manusia mengikat diri dalam komitmen antar manusia sebagai bentuk kebutuhan yang mendasar. Komitmen merupakan kontemplasi rasa, pikiran, keinginan, kebutuhan, dan harapan. Sesuatu yang besar untuk modal hidup, mulus atau kasar jalan yang di tempuh bukan masalah. Wereng, tikus, ijon, tengkulak dan sebagainya bukanlah hambatan seorang petani menjadi petani karena ia merasa sudah berkomitmen menjadi seorang petani, atas dasar segala rasa, pikiran, kebutuhan dan keinginannya.
Apa jalan terbaik saat komitmen diguncang-guncang?
Orang lain yang mengguncang bukanlah masalah, berkomitmen adalah sebuah harga diri. Bagaimana jika yang mengguncang adalah satu dari dua orang yang berkomitmen bersama?
Kompromi .Meski kompromi adalah sebuah upaya konsisten dengan cara fleksibel diatas jalan setapak yang berbatu dan berontak.
Selasa, 19 Mei 2009
Mencapai sasaran yang efektif
Setelah menetapkan sasaran agar sasaran dapat tercapai, ada beberapa hal yang perlu kita lakukan antara lain :
1. Rasa bangga terhadap profesi Salesman
Masih begitu banyak para sales person yang tidak bangga terhadap profesi yang dijalankan. MALU mengungkapkan dirinya sebagai seorang sales, menganggap pekerjaannya tidak berharga, maka langkah mendasar yang menjadi kunci keberhasilan menjual adalah memiliki rasa bangga bangga pada diri sendiri serta profesi, Bangga terhadap produk yang dijual, Bangga kepada perusahaan tempat kita bekerja. Salesman yang tidak bangga terhadap pekerjaannya, dia menutup sendiri pintu keberhasilannya.
2. Focus
Seperti profesi yang lain maka untuk menjadi seorang salesman yang sukses, dibangaun dari Mimpi, sasaran yang jelas dan terukur serta rencana yang detail. Tiga pertanyaan mendasar yang harus mampu kita jawab :
· Apa yang ingin kita capai ?
· Mengapa kita menginginkannya ?
· Bagaimana mencapainya ?
Fokuslah kepada tujuan serta rencanakan sukses yang ingin dicapai.
3. Ketrampilan menjual
Ketrampilan menjual (selling skill) adalah senjata kita untuk memenangkan penjualan.Bagaimana mendapatkan prospek yang tepat, bagaimana membangun hubungan dengan calon pembeli, bagaimana mengetahui kebutuhan calon pembeli, bagaimana memberikan solusi yang tepat, bagaimana mempresentasikan penjualan, melakukan penutupan penjualan, serta membina hubungan jangka panjang dengan pembeli. Ke semua langkah tersebut membutuhkan penguasaan selling skills yang baik.
4. Kemauan bertindak
Walaupun memiliki ketrampilan menjual tanpa kemauan melakukan tindakan penjualan tidak akan terjadi apa-apa. Tidak ada kesuksesan yang datang dengan sendirinya, tidak ada hasil yang luar bisa tanpa tindakan yang kita lakukan. Sasaran dan perencanaan hanya akan menjadi angan-angan tanpa tindakan penjualan. Degan bertindak, kemampuan dan ketrampilan kita dalam menjual semakin hari akan semakin terasah, blebih jeli membidik pasar yang tepat, tingkat ketrampilan menjual kita akan semakin meningkat, sehingga kemingkinan menutup penjualan juga akan meningkat.
5. Antusiasme
Seperti bahan baker menjalankan sebuah kendaraan. Antusiasme adalah bahan bakar menuju sukses penjualan. Antusiasmelah yang mampu mendorong, menjalankan segala kegiatan penjualan kita menuju GOALS / tujuan yang telah kita tetapkan. Tanpa semangat, jangankan mampu berlari mengejar impian dan tujuan kita, jalanpun terasa berat.
Setelah menetapkan sasaran agar sasaran dapat tercapai, ada beberapa hal yang perlu kita lakukan antara lain :
1. Rasa bangga terhadap profesi Salesman
Masih begitu banyak para sales person yang tidak bangga terhadap profesi yang dijalankan. MALU mengungkapkan dirinya sebagai seorang sales, menganggap pekerjaannya tidak berharga, maka langkah mendasar yang menjadi kunci keberhasilan menjual adalah memiliki rasa bangga bangga pada diri sendiri serta profesi, Bangga terhadap produk yang dijual, Bangga kepada perusahaan tempat kita bekerja. Salesman yang tidak bangga terhadap pekerjaannya, dia menutup sendiri pintu keberhasilannya.
2. Focus
Seperti profesi yang lain maka untuk menjadi seorang salesman yang sukses, dibangaun dari Mimpi, sasaran yang jelas dan terukur serta rencana yang detail. Tiga pertanyaan mendasar yang harus mampu kita jawab :
· Apa yang ingin kita capai ?
· Mengapa kita menginginkannya ?
· Bagaimana mencapainya ?
Fokuslah kepada tujuan serta rencanakan sukses yang ingin dicapai.
3. Ketrampilan menjual
Ketrampilan menjual (selling skill) adalah senjata kita untuk memenangkan penjualan.Bagaimana mendapatkan prospek yang tepat, bagaimana membangun hubungan dengan calon pembeli, bagaimana mengetahui kebutuhan calon pembeli, bagaimana memberikan solusi yang tepat, bagaimana mempresentasikan penjualan, melakukan penutupan penjualan, serta membina hubungan jangka panjang dengan pembeli. Ke semua langkah tersebut membutuhkan penguasaan selling skills yang baik.
4. Kemauan bertindak
Walaupun memiliki ketrampilan menjual tanpa kemauan melakukan tindakan penjualan tidak akan terjadi apa-apa. Tidak ada kesuksesan yang datang dengan sendirinya, tidak ada hasil yang luar bisa tanpa tindakan yang kita lakukan. Sasaran dan perencanaan hanya akan menjadi angan-angan tanpa tindakan penjualan. Degan bertindak, kemampuan dan ketrampilan kita dalam menjual semakin hari akan semakin terasah, blebih jeli membidik pasar yang tepat, tingkat ketrampilan menjual kita akan semakin meningkat, sehingga kemingkinan menutup penjualan juga akan meningkat.
5. Antusiasme
Seperti bahan baker menjalankan sebuah kendaraan. Antusiasme adalah bahan bakar menuju sukses penjualan. Antusiasmelah yang mampu mendorong, menjalankan segala kegiatan penjualan kita menuju GOALS / tujuan yang telah kita tetapkan. Tanpa semangat, jangankan mampu berlari mengejar impian dan tujuan kita, jalanpun terasa berat.
Dasar-dasar komunikasi bisnis
Dasar-dasar komunikasi bisnis
E Earned the right to talk abaut the subject
(Miliki hak untuk menyampaikan pesan anda)
…………..melalui studi, riset, dan pengalaman
E Excited abaut the subject
(Miliki keyakinan dan semangat untuk menyampaikan pesan anda)
………… dengan perasaan positif mengenai pesan anda
E Eager to talk abaut the subject
(Pastikan anda benar-benar ingin menyampaika pesan anda)
………….memberikan manfaat bagi pendengar anda melalui pesan anda
E Earned the right to talk abaut the subject
(Miliki hak untuk menyampaikan pesan anda)
…………..melalui studi, riset, dan pengalaman
E Excited abaut the subject
(Miliki keyakinan dan semangat untuk menyampaikan pesan anda)
………… dengan perasaan positif mengenai pesan anda
E Eager to talk abaut the subject
(Pastikan anda benar-benar ingin menyampaika pesan anda)
………….memberikan manfaat bagi pendengar anda melalui pesan anda
Langganan:
Postingan (Atom)
